Selasa, 29 Mei 2012

Karya Ilmiah tentang anak

                       PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA
               TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
                          ANAK DIDUSUN PAPAHAN RT 02
                                                        


















                                KARYA TULIS ILMIAH DIBUAT
                           GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH BAHASA  
                    INDONESIA

DISUSUN OLEH:
                                               YUNNAHAR FAJRUL FALLAH
         26.10.6.2.256

                                       PROGRAM STUDY BAHASA DAN SASTRA
                                              PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
                                                          IAIN SURAKARTA
                                                                2011/2012               




 i
       





 HALAMAN PERNGESAHAN
        KARYA ILMIAH
PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK
 DUSUN PAPAHAN RT 02

              



                    DISUSUN OLEH:
            YUNNAHAR FAJRUL FALLAH
                            26.10.6.2.256
                                                                



           Telah disahkan oleh pembimbing
                                                                
            Pada Hari/Tanggal : 25 juli 2011


                                          



                      Pembimbing


                                                                        Suprapti
ii

 KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikankan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan  judul “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak”
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu,penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1.      Ibu suprapti selaku pembimbing mata kuliah ini yang telah                               memberikan masukan serta bimbingan dalam penyusunan                                      Karya Tulis Ilmiah ini.
2.      Orang tua dan saudarakuyang telah memberikan dukungan  moril,materidan do’a nya sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan.
3.      Sahabat-sahabatku dan semua pihak yang telah bersedia dengan ikhlas memberikanbantuan,semangat dan dorongan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,segala bimbingan,petunjuk,kritikdan saran yang bersifat mambangundan menuju perbaikan akan selalu penulis harapkan.




Surakarta,30 juni 2011

      Penulis
iii

       

  DAFTAR ISI
                                                                                                    Halaman
HALAMAN JUDUL...............................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................ii
KATA PENGANTAR...........................................................................iii
DAFTAR ISI.........................................................................................iv
ABSTRAK.............................................................................................v
BAB I  PENDAHULUAN.....................................................................1
A.   Latar Belakang........................................................................1
B.   Rumusan Masalah...................................................................1
C.   Tujuan.....................................................................................2
D.   Manfaat Penelitian..................................................................2
BAB II  LANDASAN TEORI...............................................................3
A.BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP ANAK
    1.1 Pengertian Bimbingan......................................................3
    1.2 Pengertian Orang Tua dan Tanggung jawab....................4
    1.3 Tujuan Orang Tua............................................................4
B. PEMBINAAN TINGKAH LAKU........................................4
    2.1 Pengertian Tingkah Laku.................................................4
    2.2 Pembinaan Tingkah Laku Terhadap Anak......................5                    
BAB III METODE PENELITIAN......................................................6
            3.1  Desain Penelitian..............................................................6
   3.2  Tempat dan waktu penelitian............................................6
   3.3  Populasi Penelitian............................................................6
   3.4  Sampel dan Teknik Sampling...........................................7
   3.5  Identifikasi Variabel.........................................................7
BAB IV HASIL PENELITIAN............................................................9
             4.1 Pola Asuh Orang Tua........................................................9
   4.2 Pembentukan Kepribadian Anak......................................9                                            
BAB V  PEMBAHASAN..................................................................11
BAB VI PENUTUP...........................................................................13
A.   Kesimpulan...................................................................13
B.   Penutup.........................................................................13
DAFTAR PUSTAKA









iv







ABSTRAK
Tahun-tahun pertama kehidupan manusia merupakan periode yang sangat penting dan kritis. Keberhasian tumbuh kembang anak di tahun-tahun pertama akan sangat menentukan masa depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun kalau tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, apalagi yang tidak terdeteksi akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak di kemudian hari. Untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologisnya. Tingkat tercapainya berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan bio-psiki-sosial dan perilaku. Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Proses yang unik dengan hasil akhir yang berbeda-beda memberikan ciri tersendiri pada setiap anak.. Untuk itu orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak secara optimal.
Kata kunci : lingkungan, tumbuh kembang, pembentukan karakter.
                                                             








v









BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Anak merupakan aset yang menentukan kelangsungan hidup, kualitas dan kejayaan bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu anak perlu dikondisikan agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan dididik sebaik mungkin agar di masa depan dapat menjadi generasi penerus yang berkarakter serta berkepribadian baik.
Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak. Karenanya keluarga sering dikatakan sebagai primary group. Alasannya, institusi terkesil dalam masyarakat ini telah mempengaruhi perkembangan individu anggota-anggotanya, termasuk sang anak. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai bentuk kepribadiannya di masyarakat. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas sebagai penerus keturunan saja. Mengingat banyak hal-hal mengenai kepribadian seseorang yang dapat dirunut dari keluarga .
Akibat pengaruh globalisasi yang makin menguat di setiap aspek kehidupan, banyak bangsa-bangsa di dunia yang tidak berkarakter kehilangan jati dirinya. Tanpa di sadari budaya telah mengalami pergeseran (akulturasi). Semula batas budaya barat dan timur terlihat jelas, namun sekarang ini yang terjadi budaya luar secara permisif berbaur dengan budaya lokal. Kondisi yang demikian menjadi berbahaya tatakala budaya buruk dari luar ditelan mentah-mentah oleh anak-anak dalam sebuah keluarga. Seperti budaya kekerasan, minum minuman keras, penyalahgunaan narkoba atau seks bebas. Disinilah peran orang tua ditantang untuk mampu mengembalikan karakter anak dalam kapasitas agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang,maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu:
1.Adakah pengaruh orang tua terhadap pembentukan kepribadian seorang anak?
2.Mengapa peran orang tua sangat berpengaruh terhadap kepribadian seorang anak?
3.Bagaimana peran oarang tua terhadap anak di era globalisa?                                      
C. Batasan Masalah
1.  Pengaruh orang tua terhadap pembentukan kepribadian seorang anak
            2. alasan peran orang tua sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak
            3. Bentuk peran orang tua terhadap anak di era globalisasi

      1
           
D.Tujuan Penelitian
1.      Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana orang tua dalam membimbing tingkah laku, pada anak usia dini dilingkungan keluarga.
2.      Untuk mengetahui bagaimana pentingnya pembinaan tingkah laku terhadap anak usia dini dilingkungan keluarga

E.   Mafaat Penelitian
1.      Teoritis
a.       Menambah pengetahuan di bidang psikologi Bimbingan Orang Tua khususnya Pengaruh orang tua terhadap pembentukan kepribadian seorang anak.
b.      Sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.
2.      Praktis
a.       Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada para orang tua bahwa pembentukan kepribadian seorang anak dimulai dari peran serta orang tua.
b.      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi para orang tua akan pentingnya memberikan pengajaran yang baik kepada sang anak supaya sang anak memiliki kepribadian yang baik.
c.       Memberikan masukan kepada para calon orang tua agar memberikan pengasuhan yang baik kepada anaknya.






2
      








BAB II
     LANDASAN TEORI
A.Bimbingan Orang Tua Terhadap Anak
            1.1Pengertian Bimbingan
                        Bimbingan dapat diartikan secara umum sebagai suatu bantuan. Namun untuk sampai pada pengertian yang sebenarnya kita harus ingat bahwa tidak semua bantuan dap diartikan bimbingan. Bimbingan adalah terjemahan dari istilah bahasa inggris yaitu guidance, kata guidance bersal dari kata kerja to guidance artinya menunjukan,membimbing,menuntun, orang ke jalan yang benar. Jadi kata guidance berarti petunjuk,pemberian bimbingan pada orang lain yang membutuhkan. Untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas dibawah ini penulis akan pendapat dari para pakar diantaranya:
1.      Jear Book of Education(I.Djumhur ,1975:25)
Mengemukakan bahwa bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk dan mengembangkan kemampuanyya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
2.      Stoops(I.Djumhur,1975:25)
Mengemukakan bimbingan adalah suatu proses membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannyasecara maksimal dalam mengarahkan manfaatyang sebenar benarnya baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.
3.      Miller(I.Djumhur,1975:25)
Bimbingan adalah proses terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum.

1.2 Pengertian Orang Tua Dan Tanggung Jawabnya
   Orang tua adalah orang yang telah melahirkan kita selain itu mereka juga  yang mengasuh dan membimbing anaknya dengan cara memberikan contoh yang baik dalam menjalani Orang tua merupakan orang yang lebih dituakan namun didalam masyarakat orang tua kehidupan sehari-hari ,selain itu orang tua juga telah memperkenalkan anaknya dalam hal-hal yang terdapat didunia ini dan menjawab secara jelas tentang sesuatu yang tidak dimengerti oleh anak. Maka pengetahuan yang pertama yang diterima oleh anak adalah dari orang tuanya . karena orang tua adalah pusat kehidupan rohani si anak dan sebagai penyabab berkenalnya dengan alam luar ,maka setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya dikemudian terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya di permulaan hidupnya dahulu.jadi orang tua memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anak. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada disampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya dan biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh kasih sayang. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak yang menjadi temannyadan yang pertama untuk dipercayai. Kunci pertama dalam mengarahkan pendidikan dan membentuk mental si anak terletak pada peranan orang tuanya,sehingga baik buruk budi pekerti tergantung pada baik buruk budi pekrti orang tuannya.
            1.3 Tujuan Orang Tua Membimbing Anaknya
             Orang tua membimbing anaknya karena kewajaran karena kodratnya dan selain itu karena cinta. Tujuan orang tua membimbing anaknya itu supaya anaknya menjadi anak yang berprestasi dan juga dapat mengangkat nama baik orang tuanya yang telah membimbing dengan kasih sayang.

B .PEMBINAAN TINGKAH  LAKU ANAK 
2.1 Pengertian Tingkah Laku
Tingkah Laku berarti juga budi pekerti, akhlak, perangai , tabiat. Untuk mendapatkan 
Definisi yang lebih jelas akan dikemukakan beberapa pendapat diantaranya:
                                                                         
1.      Al-Ghozali (Moh.Rifai,1987:40)
Tingkah laku adalah apa yang tertanam dalam jiwa dan dari padanya timbul perbuatan yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan.
2.      Ahmad Amin (Moh.Rifai,1987:41)
Tingkah laku yang dibiasakan artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu,maka kebiasaan itu dinamakan Tingkah Laku.
                  
             Dari definisi diatas memberikan suatu gambaran,bahwa tingkah laku merupakan bentuk kepribadian dari seseorang tanpa dibuat-buat tanpa ada dorongan dari luar.Jika ada pengaruh dari luar sehingga seseorang menampakkan sisi baik,namun suatu waktu akan terlihat tingkah laku yang sebenarnya. Sifat yang tertanam pada manusia sejak lahir berupa perbuatan baikatau buruk itu merupakan bentuk tingkah laku. Awal seseorang mempunyai tingkah laku karena adanya pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung seauai dengan pembinaannya,karena didikan dan bimbingan dalam keluarga secara langsung maupun tidak banyak memberika bekas bagi penghuni rumah itu sendiri dalam tindak tanduknya,maka ilmu tentang tingkah laku menjelaskan tentang arti baik buruk.

            2.2 Pembinaan Tingkah Laku Terhadap Anak
            Secara umum tingkah  laku dapat disama artikan dengan budi pekerti,perangai, tabiat atau kepribadiandari hal tersebut setiap individuberangkat dalammempertahankan diri dari kesewenang-wenangan dari individu lainnya,tingkah laku dapat mencerminkan kepribadian sekaligus dapat menggambarkan karakteristik untuk senantiasa dibina demi mempertahankan citra diri dan keluarga serta masyarakat sekitarnya. Seorang individu mempunyai tingkah laku awalnya dari hasil bimbingan orang tuanya dalam lingkungan keluarga ,pengaruh yang tidak sengaja diperoleh melalui pengamatan panca indera yang tidak disadari masuk dalam pribadi anak. Oleh karena itu tingkah laku merupakan sebagian dari cermin kepribadian individu,maka keberadaan tingkah laku itu harus tetap dibina dan diarahkan  karena tingkah laku digunakan sebagai penuntun hidup didalam masyarakat.



                                               
                                        BAB III
                      METODE PENELITIAN

A.    DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian atau rancangan penelitian adalah suatu rencana,struktur dan strategi
penelitian untuk menjawab permasalahan yang sedang dihadapi dengan melakukan pengendalian berbagai variable yang berpengaruh terhadap penelitian itu (Arief,2004)
            Didalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
menggunakan pendekatan Natural observasi dengan cara melakukan observasi menyeluruh pada sebuah latar tertentu tanpa sedikitpun mengubahnya dan juga memberikan quisioner kepada para oarang tua. Tujuan utamanya ialah untuk mengamati dan memahami karakter anak dalam situasi tertentu. Misalnya perilaku seorang anak dengan lingkungan bermainnya (Prof. Dr. H . Mudjia Rahardjo,M.Si).

B.     TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Dusun Papahan RT 02 Desa Papahan, Tasikmadu,
Karanganyar Pada bulan Juli 2011.

C.    POPULASI PENELITIAN
Populasi adalah setiap subjek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapakan
 (Nursalam,2003)

1.      Populasi Target
Populasi target dalam penelitian ini adalah para orang tua dan anak usia dini yang berada di wilayah Dusun Papahan khususnya untuk  RT 02.
2.      Populasi Aktual
Populasi aktual adalah bagian dari populasi target tempat sempel diambil. Populasi aktual dalam penelitian ini adalah Para Orang Tua yang memiliki anak usia dini di RT 02 Dusun Papahan Desa Papahan, Tasikmadu, Karanganyar.

D   Sampel Dan Teknik Sampling
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti yang
 dianggap mewakili seluruh populasi. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sempel yang digunakan yaitu “ Purposive Sampling”. “ Purposive Sampling” yaitu pengambilan sempel yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang di buat oleh peneliti sendiri, berdasar ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo,2002).

1.      Kriteria Inklusi
Syarat Responden yang diambil dalam penelitian ini:
a.       Para Orang tua yang telah berpengalaman dalam mendidik anak
b.      Para Ibu muda
c.       Bersedia menjadi Responden
2.      Kriteria Eksklusif
Responden yang tidak diambil dalam penelitian ini adalah:
a.       Para orang tua yang telah lanjut usia
b.      Anak - anak                   
           Dengan demikian,populasi dalam penelitian ini terdiri dari para orang tua baik yang sudah berpengalaman maupun yang  belum berpengalama(muda).sedang untuk orang tua yang lanjut usia dan anak-anak tidak diambil dikarenakan untuk anak-anak mereka belum mengerti dan untuk lansia mereka susah untuk diajak bicara.
           Besar kecilnya sampel sangat dipengaruhi oleh desain dan ketersediaan sampel. Semakin besar sampel yang dipergunakan,semakin baikdan representatif hasil yang diperoleh. Dengan demikian,semakin besar sempel akan mengurangi kesalahan(Nursalam, 2003).Bedasarkan teori tersebut,peneliti mengambil sampel dari keseluruhan populasi (Total sampling) sejumlah 25 kepala rumah tangga terdiri dari 15 para ibu muda 10 para orang tua yang telah berpengalaman.
E.     Identifikasi Variabel
                  Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki oleh satuan peneliti tentang suatu konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo,2002).

                                                                       
1. Variabel Independen
Variabel Independen adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya etau berubahnya variabel dependen(Sugiyono, 2010). Variabel Independen dalam penelitian ini adalah Pola Asuh Orang Tua.
  2.  Variabel Dependen
Variabel Depanden adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas/independen (Sugiyono,2010). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Kepribadian Anak.












                       
                                 




                                  
                                                         
                                   
                                  BAB V
                          HASIL PENELITIAN

               melalui metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan natural observasion dan juga memberikan quisioner kepada para orang tua, data yang telah dikumpulkan meliputi karakteristik orang tua dan lingkungan rumah. Hasil penelitian yang didapat yaitu:
4.1 Pola Asuh Orang Tua
Metode penelitian kualitatif
Pengaruh pola asuh yang dilakukan orang tua:
                                           Tabel Pengamatan 1.1
Baik
85%
Buruk
5%
Biasa
10%

Pengaruh pola asuh yang dilakukan oleh babysiter:
                                           Tabel pengamatan 1. 2
Baik
35%
Buruk
45%
Biasa
20%
4.2 Pembentukan Kepribadian Anak
Hasil quesioner yang diberikan kepada para orang tua
1.       Pentingnya peran orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak
                                                 Tabel Pengamatan 1. 3
Sangat penting
22
88%
Cukup penting
3
12%
Tidak penting
0
0%
Total
25
100%
                                                                       
                                                                        9

2.      Pengaruh tingkat pendidikan terhadap bentuk pola asuh orang tua anak           
                                     Tabel Pengamatan 1.4
Pendidikan orang tua
Perkembangan Anak
Total
Sesuai
Tidak sesuai
Rendah
2 (40%)
3 (60%)
5 ( 100 % )
Tinggi
18 (90% )
2 (10% )
20 ( 100% )
Total
20
5
25 (100%)
                                        
3.      Pengaruh pendapatan orang tua terhadap pola asuh anak
                                                       Tabel Pengamatan 1.5
Pendapatan orang tua
Perkembangan anak
Total
Sesuai  umur
Tidak sesuai umur
≤ UMP
2 ( 40% )
3 ( 60% )
5 (100 % )
≥ UMP
17 ( 85%)
3 (60% )
20 (100 % )
Total
20
5
25 (100 %)

                                        







                                                   
                                                     
                                                         
                                                      BAB VI
                             PEMBAHASAN
              Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian tentang pengaruh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak. Berdasar tabel pengamatan yang telah dituliskan dapat diketahui bahwa pengaruh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak sangat penting.Dari hasil penelitian diatas pengaruh orang tua dapat ditinjau dari segi pendapatannya dan juga tingkat pendidikan orang tua terhadap bentuk pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak. Ditinjau dari segi distribusi pendapatan orang tua bahwa pendapatan orang tua diperoleh data bahwa sebagian besar (85% ) pendapatan orang tua berada diatas upah minimal provinsi (UMP). Hasil penelitian menunjukan hasil bahwa tidak ada pengaruh yang bermakna antara pendapatan orang tua dengan pola asuh yang diberikan kepada anak. Hal ini berarti pendapatanoarang tua apakah lebih dari UMP ataupun kurang tidak akan menjamin pola asuhyang diberikan sesuai dengan umur ataupun tidak. Menurut Ball dan Bindler (1995 ), bahwa salah satu faktor yang berkaitan dengan pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak untuk pembentukan kepribadian anak  adalah terkait dengan sosial ekonomi yang rendah. Padahal apabila dilihat dari rata-rata penghasilan orang tua di dusun papaha RT 02 berada diatas UMP (>800). Namun pendapatan ini kurang mempertimbangkan jumlah keluarga yang menjadi tanggungan. Oleh karena itu pendapatan diatas UMP(baik) namun pada hakikatnya sebuah pendapatan kurang jika dinilai dari jumlah keluarga yang menjadi tanggungan. Pandapatan keluarga kurang maka penyadiaan  terhadap sumber belajar ataualat permainan untuk anak sebagai sarana pola asuh pembentukan kepribadian anak akan terabaikan.
Dari segi pendidikan orang tua,tingkat pendidikan juga mempengaruhi baik buruk pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak. Dari tabel yang telah dibuat, kita dapat lihat bahwa orang tua yang berpendidikan tinggi dapat memberikan pola asuh yang baik untuk pembentukan kepribadian anak yang baik sebanyak 90%sedangkan 10% pola asuh yang digunakan tidak sesuai. Orang tua berpendidikan rendah dapat memberikan pola asuh yang baik sebanyak 40% sedang untuk 60% tidak sesuai.
 Hasil penelitian antara pembentukan kepribadian anak dengan pendidikan orang tua sebenarnya tidak berpengaruh penting tapi berdasarkan tabel yang telah dibuat bahwa pendidikan orang tua rendah mengindikasikan sosial ekonomi rendah.Jika sosial ekonomi rendah maka tidak dapat memberikan sarana dan prasarana kepada anak.
 Karena keadaan sosial ekonomi yang rendah maka orang tua akan jarang berinteraksi dengan anak untuk waktu yang cukup lama. Artinya perhatian orang tua akan cenderung kepada bagaiman memenuhi kehidupan kesehariannya.Dan hal itu adalah salah satu faktor yang membuat pembentukan kepribadiannya tidak sesuai dengan umur anak. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Saadah (2004) yang dilakukan pada 40 anak. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa adanya pengaruh faktor orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak diantaranya adalah pendidikan orang tua (p 0,009),umur orang tua (p=0,031), pengetahuan orang tua (p=0,032). Hal ini dapat dipahami bahwa orang tuamerupakan orang terdekat dengan anak. Diharapkan dengan semakin tingginya pendidikan orang tua maka pengetahuan orang tuasemakin tinggi dan mengerti  tentang bagaimana  pola asuh yang benar dalam membentuk kepribadian anak.
Menurut hasil penelitian Redjeki (2005),bahwa kemampuan orang tua dalam mengasuh anak dengan benar itu terjadi karena pemberian pendidikan psikologi dengan materi yang cukup sederhana dan metoda yang tepat. Peningkatan kemampuan orang tua dapat dilihat dari peningkatan pengetahuan,sikap dan perilaku orang tua dalam memberika pola asuh kepada anak. Hal ini berarti pengetahuan orang tua tentang bagaimana memberikan pola asuh yang benar tidak begitu saja terbentukmelainkan dapat melalui proses pendidikan psikologi perkembangan dengan menggunakan meteri dan metoda yang tepat. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh saadah(2004) yang mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara perkembangan pembentukan kepribadian anak yang menggunakan pola asuh yang benar dan yang tidak (p = 0,002 ).
Sehingga dapat disimpulkan adanya pengaruh pendidikan orang tua terhadap pola asuh yang dilakukan pada pembentukan kepribadian anak. Hal ini disebabkan oleh orang tua pernah mendapat pendidikan psikologi tentang bagaimana memberikan pola asuh yang benar untuk pembentukan kepribadian anak.
                                                                               
Pada pembahasan diatas kita hanya mengetahui hubungan antara hasil penelitian dengan pembahasan tanpa mengetahui peranan orang tua dan hak anak yang sebenarnya beserta pembangunan karakter anak
Peranan Orang Tua untuk anak adalah Anak adalah individu yang unik. Banyak yang menagatkan bahwa anak adalah miniatur dari orang dewasa. Padahal mereka betulbetul unik. Mereka belum banyak memiliki sejarah masa lal. Pengalaman mereka sangat terbatas.
Di sinilah peran orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya. Apabila dikaitkan dengan hak-hak anak, menurut Sri Sugiharti (2005 :1) tugas dan tanggung jawab orang tua antara lain :
1. Sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang.
2. Memelihara kesehatan anak.
3. Memberi alat-alat permainan dankesempatan untuk bermain
4. Menyekolahkan anak sesuia dengan keinginan anak.
5. Memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar.
6. Memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai dengan usia anak.
Atas dasar itu orang tua yang bijaksana ankan mengajak anak sejak dini untuk berinteraksi denagn lingkungan sekitar. Saat itulah pendidikan karakter diberikan. Mengenal anak akan perbedaan di selilingnya dan diliatkan dalam tanggung jawab hidup sehari-hari, merupakan sarana anak untuk belajar menghargai perbedaan di sekelilingnya dan mengembangkan karakter di tengah berkembangnya masyarakat. Pada tahap ini orang tua dapat mengajarkan niali-nilai universal seperti cara menghargai orang lain, berbuat adil pada diri sendiri dan orang lain, bersedia memanfaatkan orang lain.
Bapak ibu sebagai orang tua anak, adalah contph keteladanan dan perilaku bagi anak. Oleh karena itu orang tua harus berperilaku baik, saling asih, asah dan asuh. Ibu yang secara emosional dan kejiwaan lebih dekat dengan anaknya harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya baik dalam bertutur kata, bersikap maupun bertindak. Peran ibu dalam pembentukan karakter ini demikian besar, sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara. Manakala wanitanya baik maka baiklah negara. Manakala wanitanya rusak, maka rusaklah negara”.
                                                                       
Sementara itu sang bapak sebagai kepala keluarga juga harus mampu menajadi teladan yang baik. Karena ayah yang terlibat hubungan dengan anaknya sejak awal akan mempengaruhi perkembangan kognitif, motorik, kemampuan, menolong diri sendiri, bahkan meningkatkan kemampuan yang lebih baik dari anak lain. Kedekatan dengan ayah tentu juga akan mempengaruhi pembentukan karakter anak.
Begitu besarnya peran orang tua dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak, sudah sewajarnya apabila orang tua perlu menerapkan pola asuh yang seimbang (authoritative) pada anak, bukan pola asuh yang otoriter atau serba membolehkan (permissive).
Pola asuh yang seimbang (authoritative) akan selalu menghargai individualitas akan tetapi juga menekankan perlunya aturan dan pengaturan. Mereka dangat percaya diri dalam melakukan pengasuhan tetapi mereka sepenuhnya mengahargai keputusan yang diambil anak, minat dan pendapat serta perbedaan kepribadiannya. Orang tua dengan pola asuh model ini, penuh dengan cinta kasih, mudah memerinci tetapi menuntut tingkah laku yang baik. Tegas dalam menjaga aturan bersedia memberi hukuman ringan tetapi dalam situasi hangat dan hubungan saling mendukung. Mereka menjelaskan semua tindakan dan hukuman yang mereka lakukan dan minta pendapat anak.
Anak dari orang tua yang demikian akan merasa tenang dan nyaman. Mereka akan menajdi paham kalau mereka disayangi tetapi sekaligus mengerti terhadap apa yang diharapkan dari orang tua. Jadi anak sejak pra sekolah akan menunjukkan sikap lebih mandiri, mampu mengontrol dirinya, biasa bersikap tegas dan suka eksplorasi. Kondisi yeng demikian itu tidak akan didapatkan anak bila orang tuanya menerapkan pola asuh otoriter atau permisif. Karena anak-anak di bawah asuhan otoriter akan menjadi pendiam, Penakut dan tidak percaya pada diri mereka sendiri. Sementara anak-anak yang diasuh dengan model permisif akan menajdi anak yang tidak mengenal aturan dan norma serta idak memiliki rasa tanggung jawab.
Dengan berkaca pada kondisi saat ini, sudah saatnya orang tua sekarang mengambil peran lebih untuk mengembangkan karakter dan memberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal agar anak menjadi manusia berkualitas.Hak Anak yang harusnya dimiliki yaitu Membicarakan kelangsungan hidup dimuka bumi ini adalah membicarakan manusia,
karena manusia merupakan makhluk paling dominan dalam kehidupan dan lebih khusus untuk kelangsungan hidup masa dengan tergantung pada anak sebagai generasi penerus.Anak merupakan bagian dari generasi muda, penerus cita-cita dan perjuangan bangsa. Disamping itu anak merupakan sumber daya manusia yang perlu mendapatkan perhatian dan perlindungan dari berbagai ancaman dan gangguan agar supaya hak-haknya tidak terabaikan. (Sri Sugiharti, 2005: 1)
Tentang apa saja hak anak, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan resolusi No. 44/25 tentang konvensi hak-hak anak (Convention on the Rights of the Child) tertanggal 20 November 1989. Konvensi ini telah diratifikasi Indonesia pada tanggal 25 Agustus 1990 dengan keputusan presiden nomor 36 tahun 1990. sekarang ini Indonesia sudah mempunyai UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang didalamnya memuat 4 hak dasar anak yaitu:
1. Hak untuk memperoleh keberlangsungan hidup
2. Hak untuk tumbuh dan berkembang
3. Hak untuk berpartisipasi
4. Hak untuk memperoleh perlindungan
Menurut Noor Siswanto (2002:5) secara lebih terinci ada sebelas hak yang dimiliki oleh anak antara lain : (1) hak untuk didaftar sejak kelahirannya, hak atas nama, memperoleh kewarganegaraan dan sejauh mungkin mengetahui dan dipelihara oleh orang tuanya ; (2) hak mempertahankan identitas ; (3) hak tidak dipisahkan dengan orang tua ; (4) hak berhubungan dengan orang tua ; (5) hak menyatakan pendapat, kemerdekaan berpikir, beragama ; (6) hak kemerdekaan berserikat dan berkumpul ; (7) hak memperoleh bantuan khusus dari negara bagi anak yang kehilangan lingkungan keluarga ; (8) hak menikmati norma kesehatan tertinggi dan hak memperoleh pendidikan ;(9) hak memperoleh pemeliharaan, perawatan serta perlindungan ; (10) hak untuk beristirahat, bersantai, bermain dan hak untuk turut serta dalam kegiatan rekreasi dan ; (11) hak untuk dilindungi dari eksploitasi ekonomi, eksploitasi seksual dan kegiatan yang bersifat pornografis serta pemakaian narkoba.
Hak-hak anak tersebut perlu diwujudkan agar tumbuh kembang anak dapat berlangsung optimal. Dengan adannya hak-hak tersebut sudah barang tentu menjadi kewajiban keluarga, masyarakat dan bangsa (termasuk didalamnya institusi pendidikan) untuk memenuhinya.

Keberhasilan bangsa ini dalam mencetak generasi yang berkwalitas menurut Sri Mirmaning Tyas (2005:10) sesungguhnya tidak dapat hanya disandarkan pada institusi pendidikan semata. Peran masyarakat luas, keluarga besar, pemerintah, swasta, dunia bisnis hingga orang tua sendiri perlu dimaksimalkan. Mendasarkan pada hak dasar anak maka hak yang paling sering diabaikan adalah hak partisipasi anak dalam menentukan arah perkembangan dirinya. Orang dewasa, guru, orang tua, pendidik seringh kali merasa lebih berhak menentukan apa yang terbaik bagi anak tanpa mempertimbangkan basis karakter anak. Sehingga yang terjadi kemudian amat banyak orang tua yang “Gagal” didik sejak kecil itu, melahirkan anak-anak yang “Gagal” seperti dirinya.
Dalam membangun karakter anak  berarti  mendidik. Untuk  berpikir tentang pendidikan dapat kita mudahkan dengan membuat analogi sebagaimanaseorang petani yang hendak bertanam di ladang. Anak yang akan dididik dapat diibaratkan sebagai tanah, isi pendidiklah sebagai bibit atau benih yang hendak ditaburkan, sedangkan pendidik diibaratkan sebagai petani. Untuk mendapatkan tanaman yang bagus, seorang petani harus jeli menentukan jenis dan kondisi lahan, kemudian menentukan jenis bibit yang tepat, serta cara yang tepat, setelah mempertimbangkan saat yang tepat pula untuk menaburkan bibit. Setelah selesai menabur, petani tidak boleh diam, tetapi harus memelihara, danmerawatnya jangan sampai kena hama pengganggu (Suharsimi Arikunto 2004 : 1).
Me
mbangun karakter anak, yang tidak lain adalah mendidik kejiwaan anak, tidak mudah dan sederhana seperti menanam bibit. Anak adalah aset keluarga, yang sekaligus aset bagsa. Membesarkan fisik anak, masih dapat dikatakan jauh lebih mudah dengan mendidik ajiwa karena pertumbuhanya dapat dengan langsung diamati, sedangkan perkembangan jiwa hanya diamati melalui pantulannya.
Menurut Oppenheim (dalam Suharsimi Arikunto, 2004 : 2) karakter atau watak seseorang dapat diamati dalam dua hal, yaitu sikap (attitude) dan perilaku (behavior). Jadi sikap sesorang termasuk anak-anak, tidak dapat diketahui apabila tidak ada rangsangan dari luar. Rangsangan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor anatara lain cara menyampaikan, waktu terjadinya, pemberian rangsangan dan cara memberikan rangsangan. Dengan demikian maka pemebntukan sikap yang selanjutnya merupakan pembetuk karekter atau watak anak, juga sangat tergantung dari rangsangan pendidikan yang diberikan oleh pendidik.

Banyaknya anak yang terlibat dalam tindak kenakalan nak baik berupa tindak kekerasan, penipuan, pemerkosaan/pelecehan seksual, pencurian, perampokan hingga pembunuhan serta tindakan/ perilaku yang negatif lainnya seperti mabuk-mabukan, merokok atau menyalahgunakan narkoba, merupakan salah satu bentuk gagalnya pendidikan terhadap anak.
Era globalisasi memang telah mengubah segalanya. Beratnya persaingan hidup telah menyebabkan orang lupa memperhatikan kebutuhn anak karena sibuk mencari nafkah. Sementara perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan budaya luar baik atau buruk mengalir bagitu derasnya. Dampaknya bila tidak ada pengawasan dan bimbingan yang cukup buruk dari luar. Oleh karenanya, sejak dini pada anak perlu ditanamkan nailai-nilai moral sebagai pengatur sikap dan perilaku individu dalam melakukan interaksi sosial di lingkungan keluarga, masyarakat maupun bangsa Terdapat tiga teori perkembangan yang diyakini menentukan hasil jadi seorang anak. Pertama, teori tabula rasa, yakni teori yang menyatakan bahwa hasil jadi seorang anak sangat ditentukan seperti apa dia dididik. Teori ini mengibaratkan anak sebagai kertas putih yang kosong, tergantung siapa yang menulis dan melukisnya. Menulis dengan rapi atau dengan mencoret-coret bahkan diremas hingga kumal. Semua tergantung yang memegang kandali atas kertas putih tersebut.
Kedua, teori genotype, yang menyatakan bahwa hasil akhir seorang anak sangat ditentukan oleh gen (sifat, karakter, biologis) orang tuanya. Pepatah sering mendukung teori ini dengan perumpamanaan : air hujan mengalir tak jauh dari atapnya. Sifat kareakter, hingga yang lebih ekstrim lagi nasib anak-anak dianggap tidak akan jauh dari situasi orang tuanya. Penganut paham ini sangat kenatar jika sampai pada keputusan menentukan jodoh anak-anaknya. Orang tuanya cocok, maka hubungan anaknya boleh berlanjut, namun jika tidak cocok maka biasanya orang tua tidak akan memberi restu hubungan anaknya.
Ketiga, teori gabungan yang menggabungkan 2 karakter di atas di tambah denagn faktor mileu (lingkungan ). Teori ini banyak dipakai oleh para psikolog maupun pengembang pendidikan. Teori ini meyakini bahwa hasil akhir seorang anak ditentukan oleh tiga hal: faktor orang tua, faktor pendidkan dan faktor lingkungan. Banyak faktor lingkungan yakni dengan siapa dia bergaul, bergaul, pengaruh orang-orang dekat, paling diyakini sangat efektif mempengaruhi perkembangan anak.

Membangun karakter anak dengan demikian dibutuhkan upaya serius dari berbagai pihak terutama keluarga untuk mengkondidikan ketiga faktor di atas agar kondusif untuk tumbuh kembang anak. Pendidikan karakter pada anak harus siarahkan agar anak memiliki jiwa mandiri, bertanggung jawab dan mengenal sejak dini untuk dapat membedakan hal yang baik dan buruk, benar-salah , hak-batil, angkara murka-bijaksana, perilaku hewani dan manusiawi (Witono, 2005:1)


                                                      
                                                                       



                                                                









                                                                       
                                                                 BAB IV
                               PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Berdasar hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dapat diambil kesimpulan bahwa adanya pengaruh yang besar antara bentuk pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak pada anak yang berda di dusun papahan RT 02 desa papahan tasikmadu karanganyar.Korelasi antara  pola asuh terhadap pembentukan kepribadian anak 0,866. Sehingga terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh dengan pembentukan kepribadian dengan sumbangan efektif sebear 7 7,85 sedangkan dipengaruhi faktor lain 22,15
B.     SARAN
Peneliti menyadari bahwa dalam pembuatan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan sehingga diharapkan peneliti selanjutnya dapat menyempurnakan dengan menambah variabel lain yang juga mempengaruhi pola asuh orang tua dan juga jumlah sempel agar dapat menghasilkan analisis data yang dapat digeneralisasikan secara umum.

















                                               
                                  DAFTAR PUSTAKA
Hawadi,Akbar. 2004. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta : Grasindo
Arikunto,S. 2006 . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta :                         Rineka Cipta
Sugiyono. 2010. StatistikaUntuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta
Suparno,P. 2008. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Jakarta : Rineka  Cipta
Nursalam , E. 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian. Jakarta : Salemba Merdeka
Notoatmodjo ,S. 2002. MetodologiPenelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
http: // www. Google.co.id








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar